Pageblug

March 29th, 2020 by fajaregal

Dan bilamana kau anggap puisi adalah duel suara bulbul dalam lagu, tak usah sangsi bahwa doa para ibu, desis arsenik di pangkal lidahmu.

_______________________________

Doa Para Ibu
: Boris Pasternak

Jika kau anggap puisi adalah
siul yang jadi matang di saat sekejap
Maka doa para ibu,
desing peluru di antara lamat.

Misal kau anggap puisi adalah
kertak suara es di angin kedap
Barangkali doa para ibu,
kerjap pisau yang mencari urat.

Apabila kau anggap puisi adalah
malam yang mengubah hijau jadi beku
Kau mesti tahu bahwa doa para ibu,
sekam dalam bara yang menolak jadi abu.

Dan bilamana kau anggap puisi adalah
duel suara bulbul dalam lagu
Tak usah sangsi bahwa doa para ibu,
desis arsenik di pangkal lidahmu.

/Maret 2020

_______________________________

Surat untuk Kawan di Perantauan
: F. Ilham Satrio

Aku takut jika lagu perantauan itu
hanya tercecer di kelokan tajam
terkulai di antara jejak ladam
tersangkut di rimbun pulasari
dan tak bisa kuperam dalam lelapku lagi.

Kita telah pertaruhkan semuanya:
bilur di tangan yang telah jadi karib mesin pabrik,
biru suam punggung menahan pikulan menahun,
beribu album yang mesti kita dengarkan sebelum wafat,
dan mantra pengusir lapar sebelum sepucuk puisi tercatat.

Hari depan masih tetap akanan
dan kita masih sibuk mencari alasan
agar maut dan musuh
pantas digelak-tawakan.

/Maret 2020

_______________________________

Hikayat Rapper Petarung

Telah mereka panggul nyali di belikat,
mikrofon di genggaman
Maut telah dianggap kerabat
tak perlu sedu sedan mendatangi
palagan demi palagan.

Mulanya mereka merakit tiga-empat ayat
Ditempa jadi sebilah badik penyayat
Jika kata-kata mampu menuai luka dan bilur
Bersiap juga untuk pulang dengat mata lamur.

Napas di ujung kemelut,
irama tetap bersitahan
Yang membatu di mulut,
mesti lekas diledakkan.

Oldschool boom-bap terdengar menantang
Namun modern funk tak kalah menghantam
Sisakan rima pamungkas agar lawan tumpur
Pastikan telak hingga akhirnya tersungkur.

Cemas menggelupas,
vinil di akhir putaran
Rapalan yang meranggas,
digelandang ke kubangan.

Temali kawanan putus tak perlu dibuhul lagi
Hari ini musuh tentu esok rujuk kembali
Kawan, arena ini muasal segala penghormatan
Di sini kau bukan kombatan.

/Maret 2020

_______________________________